Selasa, 06 Januari 2015

Teori Emosi

Definisi emosi
Kata emosi berasal dari bahasa Prancis emotion, dari kata emouvoir, yang
berarti kegembiraan. Selain itu emosi juga berasal dari bahasa Latin emovere yang
berarti “luar” dan movere yang berarti “bergerak”. Lahey (2003) mengatakan
emosi merupakan suatu hal yang dihasilkan oleh fisiologis yang menyebabkan
munculnya reaksi emosi. Reaksi ini tidak dapat dibaca namun hanya dapat dilihat
dari ekspresinya dan perilaku saja.
Menurut Prezz dalam Syukur (2011) emosi merupakan reaksi tubuh saat
menghadapi situasi tertentu. Sifat dan intensitas emosi sangat berkaitan erat
dengan aktivitas kognitif (berfikir) manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi
yang dialaminya. Reaksi manusia terhadap hadirnya emosi, disadari atau tidak
memiliki dampak yang bersifat membangun atau merusak. Dengan demikian bisa
dikatakan emosi tidak hanya merupakan reaksi terhadap kondisi diri sendiri
maupun luar diri sendiri, tetapi juga upaya pencapaian ke arah pembentukan diri
menuju hidup yang transendental (spiritual).

Neuroticism
Disebut juga dengan istilah negative emotionality. Tipe kepribadian ini bersifat kontradiktif dari hal yang menyangkut kestabilan emosi dan identik dengan segala bentuk emosi yang negatif, seperti munculnya perasaan cemas, sedih, tegang, dan gugup (Timothy, 2000).

Teori Motivasi

Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan perilaku
seseorang, termasuk perilaku kerja. Untuk dapat memotivasi seseorang diperlukan
pemahaman tentang bagaimana proses terbentuknya motivasi. Motivasi dapat
diartikan sebagai faktor-faktor yang mengarahkan dan mendorong perilaku atau
keinginan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk
usaha yang keras atau lemah (Marihot, 2002, hal : 320). Motivasi mempersoalkan
bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerjasama
secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan
mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil
yang optimal (Malayu, 2000, hal : 140). Dari pendapat-pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan/semangat kerja yang timbul demi
mencapai keinginan diri dan tujuan dari suatu organisasi. 

Teori motivasi menurut Abraham H. Maslow
Manusia dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang melekat pada diri
setiap manusia yang cendrung bersifat bawaan. Kebutuhan ini terdiri dari lima jenis
dan terbentuk dalam suatu tingkat atau hirerarki kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologikal, seperti sandang, pangan dan papan.
2. Kebutuhan keamanan, tidak hanya dalam arti fisik, akan tetapi juga mental
psikologikal dan intelektual.
3. Kebutuhan sosial, berkaitan dengan menjadi bagian dari orang lain, dicintai orang
lain dan mencintai orang lain.
4. Kebutuhan prestise yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol
status.
5. Aktualisasi diri dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi
kemampuan nyata.

Teori motivasi menurut Clayton Alderfer
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” yang merupakan huruf-huruf pertama
dari tiga istilah, yaitu :
E = Existence (identik dengan hierarki pertama dan kedua teori maslow).
R = Relatedness (senada dengan hierarki ketiga dan keempat konsep maslow).
G = Growth (mengandung makna yang sama dengan hierarki kelima maslow).

 Teori motivasi menurut Herzberg
Teori yang dikembangkan oleh Herzberg dikenal dengan “Model dua faktor” dari
motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor higiene atau “pemeliharaan”.
Faktor motivasional adalah hal-hal pendorong berprestasi yang sifatnya
intrinsik, yang berarti bersumber dari dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud
dengan faktor higiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik
yang berarti bersumber dari luar diri seseorang, misalnya dari organisasi, tetapi turut
menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan kekaryaannya.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain
ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh,
kemajuan dalam berkarir dan pengkuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor higiene
atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan
seorang karyawan dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan
sekerjanya, kebijaksanaan organisasi, sistem administrasi dalam orgnisasi, kondisi
kerja dan sistem imbalan yang berlaku.


Tugas Mata Kuliah Psikologi Umum II

Soal :
Ulas kasus jatuhnya pesawat AirAisa QZ8501 dengan menggunakan teori emosi, teori motivasi dan pengambilan keputusan serta pemecahan masalah yang anda pelajari.
Jawaban :
1.      Berita
Dalam sepekan terakhir dunia kembali digemparkan dengan hilangnya sebuah pesawat Airbus 320-200, Air Asia Indonesia, Flight Number QZ-8501 dalam penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya ke Changi Airport Singapura.  Pesawat tersebut hilang kontak saat berada di airways M635, antara waypoint TAVIP dan RAFIS, atau di antara Tanjung Pandan (Belitung Timur) dan Pontianak. 
Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo secara resmi menyatakan di Jakarta, Minggu (28/12/2014), pesawat take off dari Surabaya, Pkl. 05.36 WIB menuju Singapura, terbang dengan ketinggian 32.000 kaki (Flight Level 320). Pesawat mengikuti jalur penerbangan: M-635. Pesawat Contact ATC Jakarta pada pukul 06.12 WIB pada  FL 320 (frekuensi 125.7 MHz). Pada saat contact, ATC Radar Jakarta mampu mengidentifikasi pesawat pada layar radar. Saat contact, pesawat (pilot)  menyatakan menghindari awan ke arah kiri dari M-635 dan meminta naik ke ketinggian 38.000 ft (FL380).
Pemerhati penerbangan, Yayan Mulyana, Minggu (28/12) petang menyatakan kepada Kompas.com, pada waktu yang berdekatan ketika pesawat  QZ8501 hilang kontak, ada lebih dari satu penerbangan yang melintas di jalur penuh awan tersebut. Posisi AirAsia QZ8501 berada pada posisi terendah di ketinggian jelajah, dibandingkan pesawat lain.
Pengamat penerbangan serta pejabat Kemenhub serta Basarnas menyatakan (data yang dirilis otoritas penerbangan ataupun penanganan bencana),  menunjukkan bahwa pesawat tidak meninggalkan jalur penerbangan, sekalipun sempat berpindah.
Kasus QZ8501 apabila dicermati, crusial point-nya terjadi hanya dalam dua menit, antara pukul 06.16 s/d 06.18 WIB. Saat pesawat menghilang dari radar, kejadiannya sangat pendek dan mendadak. Apakah pesawat secanggih Air Bus 320-200 yang relatif muda dan baru, diterbangkan oleh Captain Pilot Iriyanto (pilot senior dengan total jam terbang 20.357 jam) akan langsung menyerah dan runtuh menghadapi bad weather, CB sekalipun.
Iriyanto  menurut penulis jelas  tidak akan mengambil resiko sekecilpun dalam menghadapi CB yang selalu disebut sebagai penyebab bencana, dia pasti faham bagaimana harus bertindak dan memutuskan. Sebelum terbang dalam membuat flight plan, jelas pilot telah mendapat briefing weather on route, jadi dia faham kondisi yang dihadapi.
Memang hingga kini belum ada yang mampu menyimpulkan penyebab hilangnya QZ8501 tersebut. Pada umumnya mayoritas sementara berpendapat  bahwa pesawat mengalami kecelakaan (jatuh) karena disebabkan memasuki awan CB. Data pendukung beberapa pihak memang mendukung, karena pilot menyatakan melakukan berbelok kekiri dan request naik dari FL320 ke 380 karena menghadapi CB.
Jika dilihat data intelijen  'the past', dimana beberapa fakta pendukung penulis analisis sebagai sebuah serangan psikologis (aksi teror). Dalam terminologi intelijen, teror adalah sebuah sarana pengalangan (penciptaan kondisi) untuk merubah kondisi target, agar mau berpikir, berbuat dan memutuskan seperti apa yang diinginkan si perencana. Kini kasus hilangnya pesawat Airbus 320-200 Flight QZ8501 memunculkan misteri. Apakah terkait dengan penyebab serangan berupa  "pesan" teror?
Sumber sebagai ‘penulis’ :  Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen http://ramalanintelijen.net/

2.      Analisis berita yang didapat dengan teori
Perilaku pilot AirAsia QZ8501 ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi. Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang, termasuk perilaku kerja. Motivasi dapat diartikan sebagai faktor-faktor yang mengarahkan dan mendorong perilaku atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk usaha yang keras atau lemah (Marihot, 2002).
Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerjasama secara produktif untuk berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Dimana dalam kasus ini keadaan dalam pribadi pilot tersebut yang mendorong keinginannya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (menaikan ketinggian dan berbelok dari arah yang seharusnya) guna mencapai suatu tujuan, yaitu untuk menghindari awan yang dirasa cukup menganggu penerbangannya pada saat itu.
Sang pilot sudah memberitahukan kepada pihak terkait bahwasannya ia akan menaikkan ketinggian dan berbelok arah sebab ia berusaha menghindari awan CB. Namun, respon dari pihak terkait tidak langsung diterima sang pilot. Kemungkinan pada saat itu kondisi dilapangan sudah tidak dapat menunggu waktu yang lama untuk menerima komando dari pihak terkait. Sehingga pilot memutuskannya sendiri dengan pertimbangan yang cukup matang.
Pilot tersebut memiliki negatif emosi yang rendah atau resilient yang terkesan lebih percaya diri dengan keputusan yang diambil serta mampu mengendalikan dorongan terhadap suatu keinginan yang ia miliki, dalam hal ini ia berusaha menyelamatkan pesawat yang dikendalikannya untuk selamat dari awan CB. Menurut Frijda (dalam Nyklicek, Vingerhoets, Zeelenberg, 2011) emosi adalah fenomena dasar dari fungsi manusia, secara normalnya memiliki nilai adaptif untuk meningkatkan keefektifan seseorang dalam hal mencapai tujuan dalam arti yang lebih luas. Pada level antar individu, emosi membantu menginformasikan kepada orang lain mengenai emosi yang mendasari dan maksud suatu perilaku.
Pilot tersebut mengambil keputusan yang dirasa terbaik bagi keselamatn penumpang didalam pesawatnya. Pengertian pengambilan keputusan menurut George R. Terry adalah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Sedangkan menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah pendekatan yang sistematik terhadap hakekat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Keputusan yang diambil oleh pilot tersebut akan senantiasa menyangkut kebutuhan-kebutuhan, selera, atau referensi yang ia miliki dan nilai-nilai yang ia cari.
Apa yang telah diputuskan oleh pilot tersebut menurutnya adalah solusi terbaik daripada harus menanggung resiko melawan awan CB. Pemecahan masalah yang diambil oleh pilot tersebut ketika menghadapi rintangan diudara, adalah menaikkan ketinggian dan sedikit mengubah jalur. Hal tersebut adalah pengambilan jalan keluar agar terjadi kesesuaian antara hasil yang diharapkan, yaitu ingin mendapatkan perjalanan yang lancar dan terbebas dari hambatan. Dalam memecahkan masalah spilot tersebut harus melalui berbagai langkah seperti mengenal setiap unsur dalam masalah itu, mencari aturan-aturan yang berkenaan dengan masalah itu, dan dalam segala langkah pasti memerlukan sebuah pemikiran.


DAFTAR PUSTAKA