Selasa, 06 Januari 2015

Tugas Mata Kuliah Psikologi Umum II

Soal :
Ulas kasus jatuhnya pesawat AirAisa QZ8501 dengan menggunakan teori emosi, teori motivasi dan pengambilan keputusan serta pemecahan masalah yang anda pelajari.
Jawaban :
1.      Berita
Dalam sepekan terakhir dunia kembali digemparkan dengan hilangnya sebuah pesawat Airbus 320-200, Air Asia Indonesia, Flight Number QZ-8501 dalam penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya ke Changi Airport Singapura.  Pesawat tersebut hilang kontak saat berada di airways M635, antara waypoint TAVIP dan RAFIS, atau di antara Tanjung Pandan (Belitung Timur) dan Pontianak. 
Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo secara resmi menyatakan di Jakarta, Minggu (28/12/2014), pesawat take off dari Surabaya, Pkl. 05.36 WIB menuju Singapura, terbang dengan ketinggian 32.000 kaki (Flight Level 320). Pesawat mengikuti jalur penerbangan: M-635. Pesawat Contact ATC Jakarta pada pukul 06.12 WIB pada  FL 320 (frekuensi 125.7 MHz). Pada saat contact, ATC Radar Jakarta mampu mengidentifikasi pesawat pada layar radar. Saat contact, pesawat (pilot)  menyatakan menghindari awan ke arah kiri dari M-635 dan meminta naik ke ketinggian 38.000 ft (FL380).
Pemerhati penerbangan, Yayan Mulyana, Minggu (28/12) petang menyatakan kepada Kompas.com, pada waktu yang berdekatan ketika pesawat  QZ8501 hilang kontak, ada lebih dari satu penerbangan yang melintas di jalur penuh awan tersebut. Posisi AirAsia QZ8501 berada pada posisi terendah di ketinggian jelajah, dibandingkan pesawat lain.
Pengamat penerbangan serta pejabat Kemenhub serta Basarnas menyatakan (data yang dirilis otoritas penerbangan ataupun penanganan bencana),  menunjukkan bahwa pesawat tidak meninggalkan jalur penerbangan, sekalipun sempat berpindah.
Kasus QZ8501 apabila dicermati, crusial point-nya terjadi hanya dalam dua menit, antara pukul 06.16 s/d 06.18 WIB. Saat pesawat menghilang dari radar, kejadiannya sangat pendek dan mendadak. Apakah pesawat secanggih Air Bus 320-200 yang relatif muda dan baru, diterbangkan oleh Captain Pilot Iriyanto (pilot senior dengan total jam terbang 20.357 jam) akan langsung menyerah dan runtuh menghadapi bad weather, CB sekalipun.
Iriyanto  menurut penulis jelas  tidak akan mengambil resiko sekecilpun dalam menghadapi CB yang selalu disebut sebagai penyebab bencana, dia pasti faham bagaimana harus bertindak dan memutuskan. Sebelum terbang dalam membuat flight plan, jelas pilot telah mendapat briefing weather on route, jadi dia faham kondisi yang dihadapi.
Memang hingga kini belum ada yang mampu menyimpulkan penyebab hilangnya QZ8501 tersebut. Pada umumnya mayoritas sementara berpendapat  bahwa pesawat mengalami kecelakaan (jatuh) karena disebabkan memasuki awan CB. Data pendukung beberapa pihak memang mendukung, karena pilot menyatakan melakukan berbelok kekiri dan request naik dari FL320 ke 380 karena menghadapi CB.
Jika dilihat data intelijen  'the past', dimana beberapa fakta pendukung penulis analisis sebagai sebuah serangan psikologis (aksi teror). Dalam terminologi intelijen, teror adalah sebuah sarana pengalangan (penciptaan kondisi) untuk merubah kondisi target, agar mau berpikir, berbuat dan memutuskan seperti apa yang diinginkan si perencana. Kini kasus hilangnya pesawat Airbus 320-200 Flight QZ8501 memunculkan misteri. Apakah terkait dengan penyebab serangan berupa  "pesan" teror?
Sumber sebagai ‘penulis’ :  Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen http://ramalanintelijen.net/

2.      Analisis berita yang didapat dengan teori
Perilaku pilot AirAsia QZ8501 ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi. Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang, termasuk perilaku kerja. Motivasi dapat diartikan sebagai faktor-faktor yang mengarahkan dan mendorong perilaku atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk usaha yang keras atau lemah (Marihot, 2002).
Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerjasama secara produktif untuk berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Dimana dalam kasus ini keadaan dalam pribadi pilot tersebut yang mendorong keinginannya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (menaikan ketinggian dan berbelok dari arah yang seharusnya) guna mencapai suatu tujuan, yaitu untuk menghindari awan yang dirasa cukup menganggu penerbangannya pada saat itu.
Sang pilot sudah memberitahukan kepada pihak terkait bahwasannya ia akan menaikkan ketinggian dan berbelok arah sebab ia berusaha menghindari awan CB. Namun, respon dari pihak terkait tidak langsung diterima sang pilot. Kemungkinan pada saat itu kondisi dilapangan sudah tidak dapat menunggu waktu yang lama untuk menerima komando dari pihak terkait. Sehingga pilot memutuskannya sendiri dengan pertimbangan yang cukup matang.
Pilot tersebut memiliki negatif emosi yang rendah atau resilient yang terkesan lebih percaya diri dengan keputusan yang diambil serta mampu mengendalikan dorongan terhadap suatu keinginan yang ia miliki, dalam hal ini ia berusaha menyelamatkan pesawat yang dikendalikannya untuk selamat dari awan CB. Menurut Frijda (dalam Nyklicek, Vingerhoets, Zeelenberg, 2011) emosi adalah fenomena dasar dari fungsi manusia, secara normalnya memiliki nilai adaptif untuk meningkatkan keefektifan seseorang dalam hal mencapai tujuan dalam arti yang lebih luas. Pada level antar individu, emosi membantu menginformasikan kepada orang lain mengenai emosi yang mendasari dan maksud suatu perilaku.
Pilot tersebut mengambil keputusan yang dirasa terbaik bagi keselamatn penumpang didalam pesawatnya. Pengertian pengambilan keputusan menurut George R. Terry adalah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Sedangkan menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah pendekatan yang sistematik terhadap hakekat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Keputusan yang diambil oleh pilot tersebut akan senantiasa menyangkut kebutuhan-kebutuhan, selera, atau referensi yang ia miliki dan nilai-nilai yang ia cari.
Apa yang telah diputuskan oleh pilot tersebut menurutnya adalah solusi terbaik daripada harus menanggung resiko melawan awan CB. Pemecahan masalah yang diambil oleh pilot tersebut ketika menghadapi rintangan diudara, adalah menaikkan ketinggian dan sedikit mengubah jalur. Hal tersebut adalah pengambilan jalan keluar agar terjadi kesesuaian antara hasil yang diharapkan, yaitu ingin mendapatkan perjalanan yang lancar dan terbebas dari hambatan. Dalam memecahkan masalah spilot tersebut harus melalui berbagai langkah seperti mengenal setiap unsur dalam masalah itu, mencari aturan-aturan yang berkenaan dengan masalah itu, dan dalam segala langkah pasti memerlukan sebuah pemikiran.


DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar