Soal :
Ulas kasus jatuhnya pesawat AirAisa QZ8501 dengan
menggunakan teori emosi, teori motivasi dan pengambilan keputusan serta
pemecahan masalah yang anda pelajari.
Jawaban
:
1.
Berita
Dalam sepekan terakhir dunia kembali
digemparkan dengan hilangnya sebuah pesawat Airbus 320-200, Air Asia
Indonesia, Flight Number QZ-8501 dalam penerbangan dari Bandara Juanda
Surabaya ke Changi Airport Singapura. Pesawat tersebut hilang kontak saat
berada di airways M635, antara waypoint TAVIP dan RAFIS, atau di antara Tanjung
Pandan (Belitung Timur) dan Pontianak.
Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Djoko
Murjatmodjo secara resmi menyatakan di Jakarta, Minggu (28/12/2014), pesawat
take off dari Surabaya, Pkl. 05.36 WIB menuju Singapura, terbang dengan
ketinggian 32.000 kaki (Flight Level 320). Pesawat mengikuti jalur penerbangan:
M-635. Pesawat Contact ATC Jakarta pada pukul 06.12 WIB pada FL 320
(frekuensi 125.7 MHz). Pada saat contact, ATC Radar Jakarta mampu
mengidentifikasi pesawat pada layar radar. Saat contact, pesawat
(pilot) menyatakan menghindari awan ke arah kiri dari M-635 dan
meminta naik ke ketinggian 38.000 ft (FL380).
Pemerhati penerbangan, Yayan Mulyana, Minggu
(28/12) petang menyatakan kepada Kompas.com, pada waktu yang berdekatan ketika
pesawat QZ8501 hilang kontak, ada lebih dari satu penerbangan yang
melintas di jalur penuh awan tersebut. Posisi AirAsia QZ8501 berada pada posisi
terendah di ketinggian jelajah, dibandingkan pesawat lain.
Pengamat penerbangan serta pejabat Kemenhub
serta Basarnas menyatakan (data yang dirilis otoritas penerbangan ataupun
penanganan bencana), menunjukkan bahwa pesawat tidak meninggalkan
jalur penerbangan, sekalipun sempat berpindah.
Kasus QZ8501 apabila dicermati, crusial
point-nya terjadi hanya dalam dua menit, antara pukul 06.16 s/d 06.18 WIB. Saat
pesawat menghilang dari radar, kejadiannya sangat pendek dan mendadak. Apakah
pesawat secanggih Air Bus 320-200 yang relatif muda dan baru, diterbangkan oleh
Captain Pilot Iriyanto (pilot senior dengan total jam terbang 20.357 jam) akan
langsung menyerah dan runtuh menghadapi bad
weather, CB sekalipun.
Iriyanto menurut penulis jelas
tidak akan mengambil resiko sekecilpun dalam menghadapi CB yang selalu
disebut sebagai penyebab bencana, dia pasti faham bagaimana harus bertindak dan
memutuskan. Sebelum terbang dalam membuat flight
plan, jelas pilot telah mendapat briefing
weather on route, jadi dia faham kondisi yang dihadapi.
Memang hingga kini belum ada yang mampu
menyimpulkan penyebab hilangnya QZ8501 tersebut. Pada umumnya mayoritas
sementara berpendapat bahwa pesawat mengalami kecelakaan (jatuh) karena
disebabkan memasuki awan CB. Data pendukung beberapa pihak memang mendukung, karena
pilot menyatakan melakukan berbelok kekiri dan request naik dari FL320 ke 380
karena menghadapi CB.
Jika dilihat data intelijen 'the past',
dimana beberapa fakta pendukung penulis analisis sebagai sebuah serangan
psikologis (aksi teror). Dalam terminologi intelijen, teror adalah sebuah
sarana pengalangan (penciptaan kondisi) untuk merubah kondisi target, agar mau
berpikir, berbuat dan memutuskan seperti apa yang diinginkan si perencana. Kini kasus hilangnya pesawat
Airbus 320-200 Flight QZ8501 memunculkan misteri. Apakah terkait dengan
penyebab serangan berupa "pesan" teror?
Sumber sebagai ‘penulis’ : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen http://ramalanintelijen.net/
2.
Analisis berita yang didapat dengan teori
Perilaku
pilot AirAsia QZ8501 ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi. Motivasi
merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang,
termasuk perilaku kerja. Motivasi dapat diartikan sebagai faktor-faktor yang
mengarahkan dan mendorong perilaku atau keinginan seseorang untuk melakukan
suatu kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk usaha yang keras atau lemah
(Marihot, 2002).
Motivasi
mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau
bekerjasama secara produktif untuk berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang
telah ditentukan. Dimana dalam kasus ini keadaan dalam pribadi pilot tersebut
yang mendorong keinginannya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (menaikan
ketinggian dan berbelok dari arah yang seharusnya) guna mencapai suatu tujuan,
yaitu untuk menghindari awan yang dirasa cukup menganggu penerbangannya pada
saat itu.
Sang
pilot sudah memberitahukan kepada pihak terkait bahwasannya ia akan menaikkan
ketinggian dan berbelok arah sebab ia berusaha menghindari awan CB. Namun,
respon dari pihak terkait tidak langsung diterima sang pilot. Kemungkinan pada
saat itu kondisi dilapangan sudah tidak dapat menunggu waktu yang lama untuk
menerima komando dari pihak terkait. Sehingga pilot memutuskannya sendiri
dengan pertimbangan yang cukup matang.
Pilot
tersebut memiliki negatif emosi yang rendah atau resilient yang terkesan lebih percaya diri dengan keputusan yang
diambil serta mampu mengendalikan dorongan terhadap suatu keinginan yang ia
miliki, dalam hal ini ia berusaha menyelamatkan pesawat yang dikendalikannya
untuk selamat dari awan CB. Menurut Frijda (dalam Nyklicek, Vingerhoets,
Zeelenberg, 2011) emosi adalah fenomena dasar dari fungsi manusia, secara normalnya
memiliki nilai adaptif untuk meningkatkan keefektifan seseorang dalam hal
mencapai tujuan dalam arti yang lebih luas. Pada level antar individu, emosi
membantu menginformasikan kepada orang lain mengenai emosi yang mendasari dan maksud
suatu perilaku.
Pilot
tersebut mengambil keputusan yang dirasa terbaik bagi keselamatn penumpang
didalam pesawatnya. Pengertian pengambilan keputusan menurut George R. Terry
adalah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang
ada. Sedangkan menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah pendekatan
yang sistematik terhadap hakekat alternatif yang dihadapi dan mengambil
tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Keputusan
yang diambil oleh pilot tersebut akan senantiasa menyangkut
kebutuhan-kebutuhan, selera, atau referensi yang ia miliki dan nilai-nilai yang
ia cari.
Apa
yang telah diputuskan oleh pilot tersebut menurutnya adalah solusi terbaik
daripada harus menanggung resiko melawan awan CB. Pemecahan masalah yang
diambil oleh pilot tersebut ketika menghadapi rintangan diudara, adalah
menaikkan ketinggian dan sedikit mengubah jalur. Hal tersebut adalah pengambilan
jalan keluar agar terjadi kesesuaian antara hasil yang diharapkan, yaitu ingin
mendapatkan perjalanan yang lancar dan terbebas dari hambatan. Dalam memecahkan
masalah spilot tersebut harus melalui berbagai langkah seperti mengenal setiap
unsur dalam masalah itu, mencari aturan-aturan yang berkenaan dengan masalah
itu, dan dalam segala langkah pasti memerlukan sebuah pemikiran.
DAFTAR
PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28780/4/Chapter%20II.pdf
. diunduh tanggal 6 Januari 2014
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39822/4/Chapter%20II.pdf
diunduh tanggal 6 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar